Di antara ratusan tarian tradisional yang tersebar di kepulauan Indonesia, sangat sedikit yang secara eksplisit dan tanpa malu-malu merayakan cinta. Lalayon adalah salah satunya. Tarian ini tidak menyembunyikan pesannya di balik lapisan simbol yang ruwet. Ia menyatakan dengan jelas, melalui setiap gerakan dan tatapan para penarinya: inilah perayaan kasih, kegembiraan, dan rasa syukur atas kehidupan yang indah.
Tari Lalayon — juga dikenal sebagai Tari Lala — berasal dari Negeri Gamrange, sebutan untuk kawasan yang kini mencakup Kabupaten Halmahera Timur dan Halmahera Tengah, Maluku Utara. Nama “Gamrange” sendiri berarti tiga negeri bersaudara: Maba, Patani, dan Weda — komunitas-komunitas pesisir yang selama berabad-abad hidup dalam ikatan persaudaraan dan saling ketergantungan. Lalayon lahir dari rahim persaudaraan itu, dan ia membawa serta nilai-nilainya: persatuan, kebersamaan, dan kegembiraan yang dibagi bersama.
Dari Hikayat ke Pelataran
Asal-usul Lalayon berakar pada sebuah hikayat yang berkembang di masyarakat Weda, Patani, Gebe, dan Maba. Kisahnya sederhana tapi menyentuh: seorang perempuan yang tengah berduka diselamatkan oleh kegembiraan. Beberapa pemuda mendatanginya, mengajaknya ke pantai berpasir putih, dan di sanalah mereka mulai menari. Para perempuan lain bergabung. Gerakan meniru burung camar — lincah, ringan, bebas — ditirukan oleh semua peserta. Daun Lala digunakan sebagai sapu tangan dalam tarian, menjadi properti khas yang bertahan hingga hari ini.
Dari sini pula nama tarian ini berasal. Namun ada lapisan makna lain yang lebih dalam: kata Lala diambil dari La ila — penggalan dari kalimat zikir La ilaha illallah. Ini bukan kebetulan estetis. Ia adalah pernyataan teologis: kegembiraan dan cinta yang dirayakan dalam tarian ini diletakkan dalam bingkai kesyukuran kepada Tuhan. Rustam Hasim dan Rasti Amalia Faruk dalam jurnal Mengkonstruksi Nilai-Nilai Budaya Lokal Masyarakat Ternate Melalui Pembelajaran Muatan Lokal menegaskan bahwa Lalayon adalah kesenian rakyat bertipe tarian pergaulan — bukan tarian perang, bukan ritual magis — yang tersebar di kawasan Maluku Utara dan menyimpan nilai religius sekaligus sosial yang dalam.
Bahasa Tubuh yang Jujur
Lalayon dibawakan secara berpasangan: empat penari laki-laki dan empat penari perempuan berhadapan, saling menatap. Tidak ada senjata, tidak ada topeng, tidak ada kemenyan. Yang ada hanyalah tubuh, senyum, dan gerakan yang berdialog satu sama lain.
Penari pria memulai dengan gerakan menggoda — lembut, tidak agresif, lebih menyerupai rayuan yang beradab. Penari wanita merespons dengan gerakan yang menyiratkan penerimaan yang anggun. Dialog tubuh ini — saling pandang, senyum penerimaan, gerakan tangan yang mendekat dan menjauh — adalah cara masyarakat Halmahera mengekspresikan sesuatu yang universal: jatuh cinta dengan cara yang terhormat.
Kostum penari mencerminkan keceriaan yang sama. Para penari mengenakan Baju Koja — pakaian tradisional dengan warna-warna cerah: hijau, kuning, merah muda. Pada masa Kesultanan Ternate, Baju Koja dikenakan oleh muda-mudi keturunan bangsawan, menempatkan Lalayon dalam ranah pergaulan aristokrat yang kemudian meluas menjadi kesenian rakyat. Aksesori yang dikenakan meliputi toa puluu (penutup kepala khas Maluku Utara), konde, sapu tangan berwarna-warni, ikat pinggang, kalung, dan gelang. Para penari tidak mengenakan alas kaki — sebuah keputusan yang menghubungkan mereka secara harfiah dengan tanah yang mereka pijak.
Iringan musiknya adalah perpaduan tifa dan Juk — alat musik gesek khas Maluku — yang menciptakan irama Melayu yang mengalun, membangun atmosfer romantis yang menjadi ruang tempat tarian ini bisa berbicara. Ketika musik mengalun dan penari memasuki pelataran dengan wajah berseri, sesuatu terjadi pada penonton: batas antara tontonan dan perayaan mulai kabur.
Hidup dalam Ancaman yang Diam-Diam
Hari ini, Lalayon masih tampil dalam pernikahan, upacara penyambutan tamu, dan festival adat di Halmahera Timur dan Halmahera Tengah. Indriawati Naimuddin dkk. dalam jurnalnya tentang Tari Lalayon pada masyarakat Desa Sagea mencatat bahwa berbagai komunitas seni terus mengadakan pelatihan untuk mempertahankan tradisi ini. Upaya pelestarian melalui festival budaya dan muatan lokal sekolah juga dilakukan.
Namun ancaman globalisasi tidak bisa diabaikan. Generasi muda yang tumbuh dalam ekosistem konten digital global semakin sulit menemukan relevansi pribadi dalam gerakan tari leluhur. Yang dibutuhkan bukan hanya pelatihan teknis — bukan hanya mengajarkan langkah kaki dan posisi tangan — tetapi menyampaikan mengapa tarian ini penting: bahwa ia adalah cara sebuah masyarakat belajar merayakan hidup, mengucapkan terima kasih, dan mencintai satu sama lain dengan cara yang bermartabat.
Dalam dunia yang semakin keras dan terburu-buru, mungkin justru itulah yang paling langka dan paling dibutuhkan.

