Di Pulau Maitara, sebuah pulau kecil yang mengapung antara Ternate dan Tidore di Maluku Utara, ada momen ketika wisatawan yang datang ke Desa Wisata Akebay mendadak terdiam. Tujuh pria berdiri melingkar memegang sebatang bambu sepanjang 2,5 meter. Seorang pawang berdiri di tengah, membakar kemenyan dalam tempurung kelapa, bibirnya komat-kamit dalam bahasa tanah — salah satu bahasa tradisional tertua Maluku. Asap mengepul. Kemudian pawang berteriak: “Gila, gila, gila!”
Dan bambu itu bergerak.
Itulah Bambu Gila — atau dalam bahasa Maluku Utara disebut Bara Suwen atau Baramasewel — salah satu tradisi paling enigmatik yang hidup di kepulauan rempah-rempah ini. Ia bukan sekadar atraksi. Ia adalah ekspresi paling jujur dari cara masyarakat Maluku memahami batas antara dunia yang terlihat dan dunia yang tidak.
Lebih Tua dari Agama yang Ada
Bambu Gila dipercaya telah ada di Maluku sebelum agama Islam dan Kristen masuk ke wilayah tersebut, sebagaimana dikonfirmasi oleh Kemendikbudristek. Ini menempatkan tradisi ini dalam lapisan waktu yang sangat dalam — jauh ke masa ketika masyarakat Maluku masih hidup dalam sistem kepercayaan animisme dan dinamisme, percaya bahwa setiap benda, pohon, dan tempat didiami oleh roh yang memiliki kehendak.
Dalam konteks itu, Bambu Gila bukan pertunjukan hiburan. Ia adalah teknologi spiritual — cara berkomunikasi dengan entitas-entitas di luar jangkauan indera biasa. Konon, sebelum islamisasi dan kristenisasi mengubah fungsinya, Bambu Gila digunakan dalam kehidupan sehari-hari: memindahkan kapal berat, menarik beban, bahkan — menurut riwayat yang diturunkan lisan — digunakan dalam peperangan untuk menggentarkan musuh. Martia Soamole, Mursalim, dan Alfian Rokhmansyah dalam jurnal Ilmu Budaya (Universitas Mulawarman, 2018) mencatat bahwa tradisi ini juga melambangkan semangat gotong royong dalam kehidupan sosial masyarakat Maluku.
Anatomi Sebuah Ritual
Tidak ada yang serampangan dalam Bambu Gila. Setiap elemen dipilih dan diperlakukan dengan presisi ritual yang ketat.
Bambu yang digunakan — bambu suanggi — harus diambil langsung dari hutan, bukan dibeli. Diameter antara 8 hingga 10 sentimeter, panjang 2,5 hingga 3 meter, dengan jumlah ruas yang ganjil. Pada kedua ujungnya diikatkan kain berwarna cerah. Bahkan proses pemotongannya pun ritual: pawang terlebih dahulu meminta izin kepada roh penghuni hutan, baru bambu boleh dipotong dengan cara yang ditentukan adat.
Para pemain berjumlah tujuh orang — selalu tujuh, selalu laki-laki, selalu dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Kostum mereka didominasi warna merah: ikat kepala merah, celana merah, tanpa baju. Warna merah dalam simbolisme Maluku berkaitan dengan keberanian dan kekuatan — bukan kebetulan bahwa prajurit memakai simbol serupa.
Ritual pembuka dimulai dengan pawang membakar kemenyan di atas tempurung kelapa sambil membacakan mantra dalam bahasa tanah — bahasa yang secara harfiah berarti “bahasa bumi,” warisan linguistik yang tidak semua orang mengerti. Kadang pawang mengunyah jahe yang dipotong menjadi tujuh bagian, lalu menyemburkannya ke tiap ruas bambu. Kemenyan dan jahe diyakini sebagai medium pemanggil roh leluhur, pemberi kekuatan mistis pada bambu.
Ketika pawang berteriak gila, gila, gila — bambu mulai bergerak. Tujuh pria itu harus menahan lajunya dengan sekuat tenaga. Tifa, genderang, dan gong mulai ditabuh. Hukumnya sederhana tapi brutal: semakin cepat musik, semakin liar bambu. Semakin liar bambu, semakin besar energi yang dibutuhkan para pemain untuk tidak terjatuh, terseret, atau pingsan.
Puncak pertunjukan adalah ketika pawang — dengan asap kemenyan yang diembuskan langsung ke bambu — menjinakkan kekuatan di dalamnya. Bambu berhenti. Keheningan kembali.
Hidup yang Terus Bergerak
Hari ini, Bambu Gila tampil dalam pernikahan, upacara adat, dan festival budaya di Tidore, Ternate, dan sekitarnya. Di Desa Wisata Akebay Pulau Maitara, ia menjadi salah satu daya tarik yang memperkenalkan kekayaan budaya Tidore Kepulauan kepada dunia. Tradisi ini juga telah tercatat dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Kemendikbud RI.
Namun di balik popularitas barunya, ada pertanyaan yang lebih serius: apakah transmisi pengetahuan pawang — mantra, teknik ritual, dan hubungan dengan hutan — benar-benar berlanjut kepada generasi berikutnya? Sebab tanpa pawang yang menanggung pengetahuan itu, yang tersisa hanyalah bambu biasa. Dan bambu biasa tidak pernah menggila.
Bambu Gila adalah pengingat bahwa kebudayaan terdalam suatu bangsa sering kali tersimpan bukan di museum, bukan di buku, melainkan di dalam tubuh dan ingatan manusia-manusia tertentu yang masih mau merawatnya.

